Pentingnya Ilmu

Pernahkan dari kita melihat bendungan, atau bangunan lainnya? Setelah itu, apakah terpikir siapa yang membangun dan mendesainnya? Dan setelah itu, dengan dasar apakah seorang yang mendesain suatu bangunan memperhitungkan segi estetika dan hal lain yang membuat gedung tersebut tetap berdiri? Anda seharusnya bias menebak: yakni imajinasi sang arsitek serta dasar ilmu yang merupakan syarat mutlak akan bangunan tersebut bisa berdiri.

Ilmu sendiri ada dua macam, yakni ilmu wajib dan ilmu pelengkap (tak wajib dipelajari). Yang termasuk ilmu wajib adalah ilmu agama. Ilmu agama mencakup pengetahuan tentang dasar agama, tata cara peribadatan yang berlaku dalam agama, yang boleh dan yang tidak boleh dalam agama, pandangan agama, serta dalam agama Islam termasuk di dalamnya mempelajari sunnah Nabi Muhammad SAW dalam berbagai hal. Seperti di dalamnya adalah cara Rasulullah memperlakukan istrinya, sampai sunnah Nabi akan tanda-tanda kiamat. Di mana cara yang Nabi Muhammad perlihatkan adalah baik adanya karena Beliau manusia yang terhindar dari dosa.

Sedangkan yang disebut ilmu pelengkap adalah ilmu yang biasa diajarkan di sekolah, seperti ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu ketatanegaraan, ilmu biologi, ilmu geografi, ilmu ekonomi dan ilmu lainnya. Ilmu seperti ini banyak yang mempunyai, walaupun terhitung jumlah orang yang ilmunya banyak masih kalah jumlah dibanding orang yang ilmunya sedikit. Tetapi sayangnya banyak orang yang menganggap ilmu tak seberapa penting. Seperti dari tinjauan dari lingkungan sekolah, masih banyak siswa yang mendapat nilai yang kurang memuaskan. Ini diperparah dengan guru yang memberikan materi dengan cara yang membosankan di hati sebagian siswa. Mungkinkah hal ini yang menyebabkan siswa menjadi bersikap antipati terhadap ilmu?

Bahkan ada siswa terdaftar pada suatu sekolah, namun siswa tersebut jarang mengikuti proses belajar mengajar di sekolah itu. Apakah ilmu sedemikian murahnya sehingga tak menjadi kebutuhan bagi siswa? Di kalangan siswa yang termasuk kategori menengah ke atas, tak jarang pergi jalan-jalan dan hang-out malah menjadi kebutuhan, dan setiap mereka melakukan itu, mereka senang. Tapi entah mengapa banyak siswa ketika proses pembelajaran di sekolah, mereka malah bosan, dan bermain-main di saat guru mengajar. Dan jika ditegur, mereka baru diam. Beberapa saat kemudian, mereka bermain-main dan berisik lagi, terutama di mata pelajaran yang dianggap tak penting bagi kelulusan seperti seni musik, olahraga, komputer, dan tata boga. Malah lebih ekstrim lagi, mereka tak mengikuti suatu pelajaran tertentu dengan disengaja. Sehingga saat ujian, mereka malah mengharapkan contekan atau malah kunci jawaban.

Di negara kita pun, orang yang berilmu kurang dihargai, terutama yang berilmu di bidang yang dianggap tak penting. Beberapa profesi pekerjaan atau jurusan universitas tertentu  terkesan dianak-tirikan. Malah beberapa jurusan seperti Hubungan Internasional, Akuntansi, Kedokteran dan Teknik malah menjadi favorit. Sehingga orang berlomba-lomba masuk jurusan tersebut. Dan yang membuat miris adalah, banyak anak IPA yang seharusnya masuk jurusan universitas yang khusus IPA namun hijrah ke IPS. Dan akibatnya adalah anak IPS tak mendapat tempat yang semestinya, dan jurusan IPA kekurangan lulusan yang berkualitas dan bisa diandalkan. Ini bisa terlihat dari kurangnya tenaga di bidang IPA, khususnya pertanian dan berlebihnya tenaga di bidang IPS seperti komunikasi dan akuntansi.

Namun kita kembali pada masalah awal yakni pentingnya ilmu. Negara Barat bisa berkembang karena perkembangan ilmu yang pesat. Pada masa Perang Salib, kerajaan-kerajaan di Eropa tertinggal di bidang ilmu dibanding kerajaan Islam. Setelah mengalami kekalahan di Perang Salib, bangsa Eropa menyadari ketertinggalannya di bidang ilmu pengetahuan sehingga muncul zaman yang disebut Zaman Renaissance. Zaman di mana bangsa Eropa mulai mengalami kebangkitan di bidang ilmu pengetahuan. Di saat itu, kerajaan Islam seperti Kerajaan Usmani (Ottoman Empire) mengalami pelambatan perkembangan ilmu pengetahuan. Bahkan saat mencapai puncaknya, Kerajaan Usmani harus mengalami westernisasi karena ilmunya jauh tertinggal dibanding Eropa. Namun semua itu sia-sia karena Kerajaan Usmani pun mengalami krisis moral dan pemberontakan, yang mengarah pada kehancurannya pada Perang Dunia I, di mana Kerajaan Usmani harus menandatangani perjanjian Sevres (yang kemudian hari diubah menjadi perjanjian Lausanne karena penolakan golongan muda Turki yang dipimpin Mustafa Kemal Ataturk).

Jadi ilmu lah yang mengangkat seseorang ke derajat yang lebih tinggi. Ingatlah dahulu kala mengapa kita dijajah? Karena ilmu pengetahuan kita kalah dibanding bangsa Eropa yang menjajah kita. Apakah kita mau dijajah lagi, walau bukan dengan kekerasan, sebagai akibat dari kebodohan kita yang tak menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan dan menganggapnya tak penting? Ingatlah pula bahwa ilmu lebih utama daripada harta, seperti perkataan Ali bin Abu Talib tentang keutamaan ilmu atas harta. Rasulullah pernah mengatakan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah merebaknya kebodohan dan kurangnya ilmu. Ingatlah itu.

Apakah kita masih mau menjadi orang yang bodoh? Jadikanlah mencari ilmu pengetahuan adalah suatu kebutuhan, bukan beban.

Salam,

Dennis Hutomo T.

Minggu, 18 Oktober 2009

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: